Mudik Bersama Tan Malaka

Ini malam terakhir sahur.  Besok saiah akan mudik, mudik ke malingping-wilayah banten bagian selatan. Mudik?, beberapa hari lalu terpikir untuk tidak mudik, alasanya ingin merasakan lebaran di kampung orang. Selain itu adanya pemikiran, kenapa harus mudik bukankah pulang kampung bisa kapan saja.

Beberapa hari lalu saiah teringat Buku “Penyamaran Terakhir Tan Malaka Di Banten“, lebih tepatnya di bayah-banten selatan, hanya terhalang satu dengan kecamatan saiah tinggal.   Buku itu di tulisa Oleh Hendri Fitri, penulis dan peneliti sejaran dari Banten Selatan dan juga wartawan majalah Historia.

Dalam buku itu di jelaskan tentang bagaimana penyamaran Tan Malaka di Bayah. Di bayah, di menjadi Pegawai perusahaan batubaran yang mempekerjakan Romusha. Dia menggunakan nama Ilyas Husein.

Dibuku itu, di ceritakan  mulai dari kedatangannya di bayah sebagai pekerja bagian gudang, kemudian menjadi juru tulis hingga kemudian bisa berpengarung di wilayah bayah. Bahkan ketika bung karno berkunjung ke bayah, dia orang satu-satunya yang berani berdebat dengan bung karno tentang masalah kemerdekaan.

Di bayah, dia begitu peduli dengan kesejahteraan masyarakat sekitar dan para romusha. Dia membuat banyak kegiatan, mulai dari sepak bola, lapangannya yang sekarang di gunakan sebagai terminal bayah, membuat drama wayang orang dan mengambarkan semangat nasionalisme.

Kalau boleh saia bilang, penymaran itu tak d niatkan oleh tan malaka. Pasalnya, ketika jepang kalah dari sekutu kemudia ia memutuskan untuk kembali ketanah air dan mengakhiri  ’pelariannya’ dari luar negeri. Di jakarta dia membutuhkan uang untuk biaya hidup. Kemudian dia mengetahui bahwa di kemetrian sosial membutuhkan banyak pekerja untuk di perjakan di tambang Batubara. Ketika di tanya siapa namanya, spontan di menyebut Ilyas Husain. Mengingat dia masih ‘diburu’ , di terpaksa menggunakan nama itu.

Singkatnya dia di terima dan dia baru tahu akan di tempatkan di bayah dan dia sendiri tak tahu di mana wilayah itu. Menariknya, dia menceritakan perjalanannya dari jakarta menuju Bayah. Berangkat dari tanah abang menggunakan kereta  melewati rangkas bitung menuju bayah. Namun hanya sampai ke di daerah saketi (daerah padeglang-banten), karena jalaur kereta terputus dan dia tepaksa melanjutkan menggunakan truk.

Dari saketi hingga bayah sedang ada pembangunanan jalan raya yang dilakukan oleh romusha. Di sana, dia menyaksikan banyak meninggal dan menderita akibat ‘kerasnya’  dan sisaan dari jepang. Di perkirakan yang meninggal hingga 100o orang, konon asal usul nama saketi pun diambil dari 1000 orang  itu,

Mengingat buku itu, asa dan kerinduan saiah pada kampung halaman kembali menguat. Pemikiran yang tadinya tak mau pulang kapung, akhirnya sirna.  Saia harus Mudik. Hore mudik.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


5 Comments so far

  1.   julie on September 20th, 2010

    enaklah dek mudik bareng tan malaka hehehe
    sekarang udah balik beloom?

  2.   oding on September 20th, 2010

    Sudah kak jul…dan tadinya tulisan ini mau aku ikut sertakan di lomba bloggor, tapi telat. Padahal tulisannya di buat sebelum pulang.

  3.   wahyu onchom on Oktober 25th, 2010

    kira kira perjalann tan malaka pada dekade 1942-1945 sangat berpengaruh ketika para romusha di pekerjakan oleh jepang mulai gunung madur dan berakhir di wisata sejarah pulo manuk……..?

    masih adakah mantan romusha yang masih hidup dan bagai mana sikap pemerintah setempat memberdayakan beliau serta di mana dia tinggal?

  4.   oding on Oktober 30th, 2010

    @nas wahyu : dari buku yang saiah baca demikian, tanmalaka bisa “menggerakan” para romusha dan memperjuangkan hak para romusha ke perusahaan agar lebih baik. masih ada mantan romusha, karena penulisnya juga mewawancari salah satu sumbernya

  5.   Franco33Ila on Maret 19th, 2011

    I opine that to receive the loan from creditors you should have a firm motivation. Nevertheless, once I have got a bank loan, because I wanted to buy a building.

Leave a reply